Ketika “Pengadilan” Menjadi Sahabat Masyarakat

Melbourne, PembaruanPeradilan.net

 

Foto 20131008 Gedung CNJC

“Ini adalah gedung pengadilan. Sangat penting bagi semua orang untuk merasa aman ketika berada di tempat ini.” Kalimat tegas namun bersahabat ini menyambut setiap pengunjung Neighbourhood Justice Centre (CNJC) yang berada di distrik Collingwood di pinggiran kota Melbourne, Australia.

“Bisa Anda lihat, bahwa kami tidak memasang peralatan keamanan selayaknya gedung pengadilan pada umumnya,” ujar Sheryn, Education Manager CNJC ketika mendapat kunjungan kerja dari Pokja Alternatif Penyelesaian Sengketa MA pada Selasa (8/10/2013).

Lebih lanjut Sheryn menjelaskan bahwa kepada setiap pengunjung yang datang, para petugas di meja depan akan menyambutnya dengan ramah dan bertanya apa yang bisa dibantu. Sebuah sikap pelayanan laiknya hotel berbintang lima. Begitu pula ketika persidangan akan dimulai, alih-alih panggilan berkumandang dari pengeras suara, sang panitera akan menghampiri para pihak (dan pengacaranya), untuk membicarakan upaya penyelesaian permasalahan dan sengketa yang dihadapi.

CNJC memang unik. Lembaga ini bukan semata-mata pengadilan. Fungsi mengadili hanya salah satu dari tiga layanan utama di CNJC. Selain pengadilan, juga terdapat upaya-upaya pengembangan komunitas dan layanan-layanan kemasyarakatan seperti konsultasi, mentoring, dan rehabilitasi. Filosofi utama, sebagaimana tercermin dari namanya (Neighbourhood Justice Centre), adalah menjadi pusat keadilan bagi masyarakat sekitarnya. “Sangat penting bagi kita, untuk memahami kenapa sebuah perilaku yang tidak diharapkan — termasuk tindak kejahatan, bisa terjadi,” jelas Kerry Walker, Direktor CNJC.  Dengan memahami root cause tersebut, CNJC kemudian melakukan berbagai langkah yang diperlukan untuk mengatasi sekaligus mencegah hal serupa bisa terjadi. Sebagai contoh, jika tindak kejahatan terjadi karena anak-anak muda tidak memiliki penyaluran energi dan emosinya, CNJC akan memfasilitasi sehingga mereka memiliki kegiatan-kegiatan positif.

CNJC berada di wilayah di mana terdapat kesenjangan sosial yang cukup tinggi. Yurisdiksinya meliputi sebuah kawasan yang terdiri dari sekitar 77 ribu jiwa. Selain itu, latar belakang budaya di wilayah ini juga sangat bervariasi. Konflik horisontal dan kejahatan menghantui para penduduknya. Pendirian CNJC merupakan sebuah upaya terobosan untuk — tidak hanya mengurangi angka kejahatan, namun juga mengurangi konflik yang terjadi dengan mendorong masyarakat untuk bisa menyelesaikannya sendiri.

Lebih lanjut Sheryn memberi contoh, ketika ada dua warga masyarakat yang berselisih dan kemudian melibatkan para keluarga besar dan kemudian warga “kampungnya”, maka alih-alih memutus siapa yang benar dan siapa yang salah, CNJC akan memediasi agar kedua belah pihak bisa menyelesaikan konfliknya dengan cara yang elegan. Pelibatan para tokoh masyarakat dari kedua kubu menjadi kuncinya. Itu sebabnya secara rutin CNJC mengadakan pelatihan penyelesaian konflik bagi kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat.

Selain itu, CNJC juga mendorong agar segenap staf dan aparat penegak hukum lainnya membaur dengan masyarakatnya. “Ketika anak-anak muda di gedung seberang mengadakan lomba sepak bola, maka para panitia di sini dan petugas kepolisian turut terlibat menjadi panitianya,” ujar Sheryn sambil menunjuk sebuah gedung tinggi sekitar satu blok dari kantor CNJC. Menurutnya, gedung itu merupakan wilayah hunian yang cukup padat, multi kultural, dan mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah. Tidak hanya sekedar membaur, para petugas penegak hukum itu kemudian secara langsung menanamkan prinsip-prinsip keadilan, kepatuhan pada aturan main yang disepakati, fairness, dan kejujuran kepada kalangan muda melalui permainan olah raga tersebut.

Dalam melaksanakan kegiatannya, CNJC berpijak pada empat prinsip utama: restorative justice, therapeutic jurisprudence, pelibatan komunitas, dan kemitraan. Dengan prinsip keadilan restoratif, Pengadilan Magistrat yang berada di CNJC mengupayakan “hukuman” yang bersifat pemulihan dan membantu untuk kembali ke masyarakat. Pengecualian dilakukan untuk jenis-jenis kejahatan tertentu yang tergolong berat. Itu pun langkah-langkah terapik juga dilakukan mengupayakan persoalan kemasyarakatan yang menjadi dasar munculnya perilaku yang tidak diharapkan tersebut. Langkah hukum yang dilakukan berupaya memberikan terapi dan preseden bagi masyarakat untuk memecahkan persoalannya sendiri.

Pelibatan komunitas dan kemitraan merupakan kunci dalam melaksanakan pelayanan. CNJC tidak menyediakan semua layanannya sendiri. “Kami memulai dengan melibatkan para komunitas dan lembaga pemerintah yang sudah ada, dan menyatukan titik pelayanannya di sini,” jelas Sheryn. Petugas dari masing-masing lembaga tersebut ditempatkan dan bertugas di CNJC. Kalau istilah populer dalam bahasa Indonesia barang kali adalah di-BKO-kan. Dengan demikian CNJC kemudian memiliki jejaring yang sangat luas dan tergolong efisien dalam beroperasi. Para lembaga yang sudah ada juga menjadi tidak merasa tersaingi, namun seperti memiliki teman dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Sebagai institusi yang dibiayai negara, CNJC berupaya menyalurkan dan menyediakan akses pendanaan bagi para lembaga kemasyarakatan maupun lembaga pemerintah lainnya. Tujuannya adalah memecahkan persoalan-persoalan kemasyarakatan yang timbul, yang menjadi alasan dibalik munculnya perselisihan maupun tindak kejahatan yang timbul. CNJC merupakan sebuah upaya untuk mengkonsolidasikan segenap sumber daya yang ada dalam meredam konflik, mencegah tindak kejahatan dan mendorong penyelesaian masalah oleh masyarakat sendiri.

Pendirian dan operasional CNJC ini bukannya tanpa tantangan dan hambatan. Pendekatan yang lebih “sosialis” ini tidak mudah diterima oleh beberapa kelompok politik yang ada. Resistensi juga awalnya muncul dari berbagai kalangan yang skeptis dengan pendekatan ini. “Namun CNJC membuktikan bahwa mereka bisa melakukannya,” ujar Leisha Lister dari Family Court of Australia yang mendampingi rombongan dari Indonesia berkunjung ke tempat ini.

Lebih lanjut Sheryn juga menyampaikan bahwa lembaga tempat dia bekerja ini juga bukannya tidak memiliki kekurangan. Karena kesibukan yang ada, menurut Sheryn masih cukup minim upaya untuk mendokumentasikan apa yang terjadi maupun mengkomunikasikan keberadaan lembaga ini di luar kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi sasaran pelayanannya. “Bisa terjadi, penduduk di seberang jalan sana akan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui apa sebenarnya lembaga ini, yang mana sangat memalukan sebenarnya bagi kami,” ujarnya sambil tertawa.

Sangat menarik bahwa sesungguhnya penyelesaian masalah berbasis komunitas ini memiliki akar panjang dalam budaya dan adat berbagai suku yang ada di Indonesia. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan derasnya terpaan kehidupan modern yang lebih materialistis, masyarakat Indonesia justru semakin rawan dengan konflik horisontal di antara berbagai kelompok yang ada. Pemahaman yang banyak berkembang adalah “hukum sekeras-kerasnya supaya ada efek jera”, yang kadang menafikan kenapa sebuah persoalan bisa muncul. Sebuah pandangan yang bagi menurut Dr. Adriaan Berdner dari Leiden University pada sebuah kesempatan seminar di Surabaya awal bulan Oktober ini, membuat penegakan hukum tercerabut dari akarnya.(*)

[hf]

foto: http://www.neighbourhoodjustice.vic.gov.au/

1 Comment

Tinggalkan Komentar