Hakim, Salah Satu Kunci Keberhasilan Mediasi

Cibinong, PembaruanPeradilan.net

Kunci keberhasilan perkara melalui mediasi yang pertama adalah dari hakim yang menangani perkara tersebut, yang kedua dari para pengacara yang mendorong agar perkara bisa melalui mediasi atau jalan damai dan yang ketiga dari masyarakat sendiri, ada atau tidak kemauan untuk berdamai.

Demikian disampaikan oleh Ketua Kamar Perdata Mahkamah Agung RI Suwardi SH, MH ketika memberikan pidato pembukaan Workshop Internasional Mediasi di Pengadilan Negeri Cibinong pada Rabu (21/8/2013) pagi.

DSC_2307

“Kegagalan mediasi akan menyebabkan perkara-perkara di Mahkamah Agung akan semakin banyak. Setiap tahun perkara yang masuk ke Mahkamah Agung meningkat,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengadilan Negeri Cibinong Sudjatmiko, SH, MH mengatakan, semangat musyawarah harus ditingkatkan. Hal ini bertujuan agar dalam sebuah perkara bisa diselesaikan dengan mediasi dan tidak berlarut-larut.

“Mediasi penting dalam menyelesaikan konflik yang terjadi antara orang yang bermasalah, maka dari itu, penting diadakan musyawarah agar konflik tidak berlarut-larut”, tandasnya.

Berdasarkan data statistik yang dimilikinya, PN Cibinong dalam kurun waktu 2011 sampai 2013 berhasil mendamaikan 67 perkara dari 367 perkara jenis perdata yang masuk.

Senada dengan Ketua Pengadilan Negeri Cibinong, dalam sambutannya, Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Barat Marni Emmy Mustafa mengatakan workshop ini diharapkan mendapatkan inovasi-inovasi terbaru dalam hal mediasi.  “Perlu adanya inovasi dalam mediasi, sehingga orang yang berkonflik dapat diselesaikan dengan baik dan cepat,” ujarnya.

Perkembangan Saat Ini

Dalam sesi diskusi yang berkembang, terkuak fakta proses dan hasil mediasi di Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara Jepang, Australia dan Belanda. Bahkan data tahun 2011 menunjukkan dua pengadilan di Jakarta tidak mampu mendamaikan pihak berperkara di tingkat mediasi.

Salah satu narasumber, Hakim Agung Takdir Rahmadi menyatakan, Mahkamah Agung (MA) sedang mencanangkan perbaikan proses mediasi yaitu dengan melakukan kerjasama dengan Federal Court Australia dan Family Court Australia untuk membuat proses hukum mediasi di Indonesia menjadi lebih baik.

Rencananya MA juga akan mengeluarkan maklumat bagi hakim yang berhasil mendamaikan para pihak di tingkat mediasi akan mendapatkan penghargaan, baik dalam bentuk promosi jabatan atau mutasi. “Selain itu akan dibentuk unit pengelola media pada Mahkamah Agung RI,” kata Hakim Agung kamar perdata tersebut.

Pada lain pihak Yushiro Kusano –guru besar ilmu hukum di Jepang- menyatakan kunci sukses mediasi ada pada budaya masyarakat. Diceritakan olehnya bahwa masyarakat Jepang sangat menjunjung tinggi budaya berkomunikasi dan bermusyawarah. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila tingkat keberhasilan wakai di Jepang sangat tinggi.

Sebagai perbandingan lainnya, Leisha Lister –penasehat pada Family Court of Australia- menyatakan pendapat tersebut mungkin ada benarnya. Masyarakat Australia cenderung menyelesakan konflik/sengketa di pengadilan sehingga tingkat keberhasilan mediasi biasa saja. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa tidak semua sengketa perlu diupayakan diselesaikan dengan mediasi, karena sifatnya sengketa itu sendiri yang memerlukan putusan hakim.

“Jika ada perkara kekerasan dalam rumah tangga yang mengakibatkan istri menjadi korban, apakah harus diselesaikan dengan mediasi,” tegasnya.

Sedangkan Andra Poeloengan –advokat sekaligus mediator – mengusulkan adanya undang-undang perihal mediasi. Hal ini penting untuk menyelaraskan dan mengkoordinasikan proses mediasi di setiap lini sehingga tidak lagi parsial seperti kondisi seperti ini.

Workshop ini menghadirkan beberapa panelis yang telah menjadi pakar di bidang mediasi yaitu Hakim Agung Takdir Rahmadi, Yushiro Kusano membawakan materi tentang Kebijakan dan Administrasi Peradilan yang Mendukung Chotei dan Wakai di Jepang, Kazuto Inaba yang menjelaskan mengenai Alternatif Penyelesaian Sengketa (ADR) di Jepang,  Leisha Lister yang mengupas tentang ADR dalam Sistem UU Keluarga Australia serta Andrea Hynan Poeloengan yang mempresentasikan Perkembangan Mediasi di Luar Pengadilan di Indonesia.(*)

[ya]

foto: pn-cibinong.go.id

Be the first to comment

Tinggalkan Komentar