Berbagi Pengalaman dengan Judicial Commission of New South Wales

Panitera MA foto bersama dengan delegasi Judicial Commission of New South Wales (24/5)

Jakarta, PembaruanPeradilan.net – Mahkamah Agung RI berkesempatan menerima kunjungan delegasi Judicial Commision of New South Wales (Komisi Yudisial New South Wales Australia) pada Kamis (24/5/2012) pagi. Kunjungan ini bertujuan untuk saling bertukar ide dan pengalaman terkait perkembangan peradilan di kedua negara.

Panitera MA foto bersama dengan delegasi Judicial Commission of New South Wales (24/5)

“Sejak pertama kali ke Mahkamah Agung pada 2001 hingga kini saya telah merasakan banyak perubahan signifikan, khususnya di bidang implementasi teknologi informasi,” terang Murali Sagi, Direktur Informasi KY NSW dalam diskusi yang dibuka oleh Panitera MA Soeroso Ono.

Sebelumnya, Panitera MA menyampaikan ucapan selamat datang kembali kepada Murali Sagi karena beberapa tahun sebelumnya sudah beberapa kali berkunjung dan berkontribusi terhadap pengembangan sistem manajemen perkara di Mahkamah Agung.

Dalam sesi pembukaan, Panitera juga menjelaskan tujuan diskusi ini agar Mahkamah Agung mendapatkan informasi terbaru terkait pengembangan teknologi informasi di badan peradilan, “Sekaligus membahas pengembangan sistem manajemen perkara,” tambahnya.

Menurut Murali, KY NSW memiliki tiga fungsi utama, yaitu menerima pengaduan terkait hakim dan aparat pengadilan, melaksanakan program pendidikan berkelanjutan bagi hakim dan aparat pengadilan, serta berupaya menjaga konsistensi penjatuhan hukuman pidana. Dalam kesempatan diskusi ini, Murali Sagi akan berbagi ide dan pengalaman dalam upaya menjaga konsistensi penjatuhan hukuman pidana melalui peran teknologi informasi.

Dalam upaya menjaga konsistensi penjatuhan hukuman pidana, KY NSW mengembang sebuah sistem informasi yang dinamakan dengan Judicial Information Reseach System (JIRS). Sistem tersebut merupakan sumber data primer, bahan referensi sekunder dan statistik yang diperuntukkan petugas badan peradilan, profesi hukum, instansi pemerintahan dan masyarakat umum.

JIRS berisi data-data mengenai putusan-putusan beserta ringkasan-ringkasannya peraturan perundang-undangan, bahan terkini terkait hukum dan peradilan, serta statistik penjatuhan hukuman pidana.

Sistem ini merupakan sistem manajemen pengetahuan (knowledge management) yang mampu memberikan nilai tambah bagi para pejabat peradilan dalam mengambil keputusannya. Informasi yang disimpan diolah menjadi statistik komprehensif tentang putusan-putusan sebelumnya.

Pembahasan yang disampaikan oleh Murali Sagi kurang lebih sama dengan apa yang dipresentasikan olehnya pada international lecture di Indonesia Jentera School of Law pada Rabu (23/5/2012) hari sebelumnya.

Hadir dalam diskusi ini Hakim Agung Suwardi, Hakim Agung Takdir Rahmadi, Hakim Agung Syamsul Maarif dan Hakim Agung Sultony Mohdali beserta beberapa pejabat di lingkungan Mahkamah Agung RI. Turut hadir pula dalam kesempatan ini delegasi dari Australia-Indonesia Partnership for Justice (AIPJ) yang diwakili oleh Program Director Nicola Colbran.

Sesi Diskusi

Suasana diskusi di Ruang Rapat Mudjono, MA (24/5)

Dalam sesi diskusi Hakim Agung Suwardi mempertanyakan sejauh mana efektivitas dan penggunaan sistem ini oleh hakim di pengadilan dan bagaimana keterikatan para hakim untuk mempergunakan sistem ini.

Sedangkan Hakim Agung Syamsul Maarif dan Hakim Agung Takdir Rahmad mempertanyakan perihal sumber daya yang disiapkan untuk membangun dan mengembangkan sistem ini.

Menjawab pertanyaan para hakim agung, Murali Sagi menyatakan bahwa sistem ini dibangun untuk memberikan data dan  informasi bagi hakim sehingga dapat dimanfaatkan sebagai acuan/pedoman dalam menjatuhkan putusan pidana. Dirinya menggaris bawahi JIRS dibangun untuk konsistensi penerapan hukum dalam penjatuhan pidana, tidak untuk menciptakan putusan pidana yang sama.

“Harus diingat hakim harus independen dalam segala hal,” jelasnya menegaskan.

Terkait dengan sumber daya, Murali menjelaskan bahwa sistem ini dibangun pertama kali sejak 1989 dengan sistem yang sangat sederhana sekali yang bernama SIS. Selanjutnya ia menekankan hal yang terpenting adalah menjalan sistem ini secara kontinu dan berkesinambungan. Oleh sebab itu, sistem ini didukung 7 orang peneliti yang memiliki latar belakang keahlian berbeda-beda sehingga JIRS dapat berjalan seperti yang saat ini.

Bahkan, tiap tahun Judicial Commission selalu berupaya untuk mengusahakan sesuatu fitur yang baru. Misalnya dewasa ini siap dipakai fitur JIRS yang bisa diakses melalui tablet komputer dan bahkan dalam waktu dekat akan dikembangkan untuk penggunaan smartphone.

“Saat ini bisa di iPad, ke depan akan dikembangkan untuk iPhone dan bahkan sistem Android,” terang Murali.

Pengembangan aplikasi dilakukan secara internal dan untuk menunjang keberlangsungan dan pengembangan sistem ini, Judicial Commission memberikan layanan yang terbuka kepada pengadilan-pengadilan lainnya dan juga kepada praktisi hukum yang dikenakan biaya untuk membayar biaya akses.

Murali Sagi berharap, walaupun tradisi dan sistem hukum antara Australia dan Indonesia berbeda, berbagi ide mengenai sistem ini dapat dijadikan referensi bagi perkembangan sistem teknologi informasi yang mendukung peradilan di Indonesia.(*)

[ya]