Presiden Hoge Raad Belanda Menerima Delegasi Mahkamah Agung RI

Den Haag, PembaruanPeradilan.net – Terdapat perbedaan praktek peradilan antara Mahkamah Agung RI dengan Hoge Raad Belanda dalam berbagai hal. Hal ini sebagai akibat dari perkembangan sosial dan hukum. Walaupun demikian prinsip-prinsip hukum yang berlaku masih relevan karena sistem hukum Belanda dan Indonesia masih sangat erat kaitannya. Oleh karena itu masih sangat relevan untuk berbagi pengalaman.

Demikian disampaikan oleh Ketua MA Harifin A. Tumpa dalam sambutannya saat diterima dengan hangat oleh Presiden Hoge Raad Belanda di ruang kerjanya di Den Haag, Belanda pada Senin (31/10/2011).

Selanjutnya Ketua MA menyatakan bahwa kunjungan kali ini bertujuan untuk mendiskusikan beberapa hal, yaitu tantangan-tantangan yang dihadapi seputar implementasi sistem kamar pada MA sebagai suatu sistem yang relatif baru diimplementasikan, manajemen perkara pada Hoge Raad, dan tukar menukar pikiran tentang beberapa aspek terkait dengan masalah hukum pidana dan perdata.

Mahkamah Agung RI melaksanakan kunjungan balasan ke Hoge Raad Belanda setelah satu tahun berlalu sejak kunjungan President Hoge Raad Kerajaan Belanda Geert Corstens dan Vice President Hoge Raad Hans Fleer ke MA. Delegasi MA yang dipimpin oleh Ketua MA dan terdiri dari total 16 anggota (termasuk Ketua MA) diterima di ruang kerja President Hoge Raad Geert Costens.

Delegasi MA terdiri dari Ketua MA HArifin A. Tumpa, Ketua Muda TUN Paulus E. Lotulung, Ketua Muda Pembinaan Widayatno Sastrohardjono, Ketua Muda Pidana Artidjo Alkostar, Ketua Muda Pidana Militer Imron Anwari, Hakim Agung Samsul Maarif, Panitera MA Suhadi, Kepala Badan Pengawasan MA Syarifuddin, Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Badan Litbangdiklatkumdil MA I.G.A. Sumanatha, dua orang hakim pengadilan pajak dan Tim Asistensi Pembaruan Peradilan.

Hadir dalam acara tersebut, perwakilan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia bagi Kerajaan Belanda yang diwakili oleh Kuasa Usaha Ad-Interim RI Umar Hadi. Hadir pula dalam pertemuan tersebut Wakil Ketua Hoge Raad, Mr Hans Fleer, Hakim Hoge Raad Loth Peters dan Registrar Hans Storm. Selain itu hadir juga perwakilan Center for International Legal Cooperation Mr Jan van Olden dan Erick Vicken serta pemerhati peradilan Indonesia Sebastian Pompe.

Hubungan Yang Membaik

Dalam sambutannya, President Hoge Raad Geert Corstens mengatakan, ia sangat terkesan dengan keramah-tamahan yang diterimanya pada waktu kunjungannya ke Indonesia tahun lalu. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa baik Hoge Raad Belanda dan MA memiliki tugas yang sama, yaitu membawa keadilan dan kepastian hukum bagi masyarakat. Presiden Hoge Raad juga menekankan ikatan sejarah antara dua negara yang membuat tukar menukar pemikiran di antara kedua lembaga peradilan menjadi sangat relevan.

Kuasa Usaha Ad-Interim Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda Umar Hadi menyatakan bahwa kerja sama antara MARI dan Hoge Raad merupakan bentuk nyata kerja sama bilateral antar kedua negara yang semakin membaik.

Sementara itu Director Ad Interim Center for International Legal Cooperation, Mr JV Olden mengatakan bahwa usia kerjasama Mahkamah Agung RI dan Hoge Raad sudah sangat jauh ke belakang, bahkan sejak jaman (mantan Hakim Agung) Asikin Kusumah Atmadja bertugas.

JV Olden sangat bahagia ketika mengetahui beberapa figur yang hadir pada kunjungan ini juga merupakan figur yang telah lama terlibat dengan kerjasama dengan Hoge Raad Belanda. Menurutnya kunjungan kali ini serta derajat keterlibatan pemerintah Indonesia dan Belanda menunjukkan bahwa secara politik kerjasama MARI dan Hoge Raad sudah memperoleh lampu hijau.

Langkah selanjutnya bergantung kepada pihak-pihak yang hadir pada kunjungan ini untuk menentukan tindak lanjut kerja sama ini. Dirinya berharap agar pada akhir kunjungan dapat dicapai butir-butir kerjasama yang disepakati sebagai basis untuk tindak lanjut di masa yang akan datang. (*)

[as/ya]