Rumitnya Implementasi Sistem Kamar di FCA

Ketua MA-RI bersama Justice Moore

Jakarta – Distribusi hakim dalam sistem kamar adalah salah satu masalah yang paling rumit dalam implementasi sistem kamar pada Federal Court of Australia (FCA). Demikian disampaikan oleh Justice Michael Moore, Hakim Agung pada FCA dalam suatu diskusi antara Kelompok Kerja Sistem Kamar Tim Pembaruan Peradilan MA dengan Delegasi FCA pada Senin (21/3) pagi di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta. Gagasan mengenai sistem kamar pada Mahkamah Agung RI rencananya akan diimplementasikan pada tahun 2011 ini untuk menjamin kualitas putusan dan kualitas hakim itu sendiri.

“Secara umum perkara di FCA dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perkara umum dan perkara khusus. Semua hakim pada prinsipnya wajib menangani seluruh perkara yang diberikan,” menurut Justice Moore.

Bagi pengadilan yang yurisdiksinya perkara-perkara perdata, maka perkara yang dikategorikan sebagai perkara khusus harus ditangani secara panel yang terdiri dari beberapa orang hakim spesialis. Perkara khusus tersebut termasuk perkara-perkara pajak, HaKI, perusahaan, hak adat, persaingan usaha dan maritim.

“Pengelompokan hakim pada panel spesialis sangat bersifat fleksibel, hal ini dikarenakan pada dasarnya kewenangan FCA relatif homogen, yaitu hanya terbatas pada perkara perdata.,” tambahnya.

Hakim-hakim di FCA didorong untuk menggabungkan diri kepada panel spesialis tertentu berdasarkan keahlian yang dimilikinya. Selain itu seorang hakim bisa tergabung dalam lebih dari satu panel spesialis dan juga dimungkinkan untuk melakukan rotasi dari satu panel ke panel lainnya.

Aspek lain yang menjadi dasar dalam distribusi sistem kamar di FCA Australia adalah faktor personal satisfaction. Hakim sebagai individu diperkenankan untuk mengerjakan hal-hal yang memang merupakan spesialisasinya, sehingga mampu membuat capaian-capaian terbaik dalam kariernya. Sekali lagi, hal ini dimungkinkan karena sifat litigasi pada FCA yang memang berbasis hukum perdata.

 

Kompleksitas Sistem Kamar

Salah satu kompleksitas yang dihadapi oleh FCA adalah ketersediaan posisi pada panel tertentu yang tergantung pada kuota yang telah ditetapkan oleh FCA. “Elemen kerumitan muncul karena ketidakseimbangan antara keinginan hakim untuk bergabung dalam panel tertentu dengan ketersediaan posisi pada panel-panel, ada panel-panel yang dianggap favorit, sementara lainnya tidak terlalu menjadi favorit,” tambah CEO/Registrar Warwick Soden.

Soden juga mengakui bahwa sistem panel yang merupakan sistem yang rumit. Bahkan di Australia, sistem panel yang diaplikasikan dianggap belum sepenuhnya sempurna, karena masih ada pertanyaan tentang implementasi sistem kamar.

Soden sangat menghargai proses yang sedang dijalankan oleh Pokja Sistem Kamar yang sedang bekerja keras menyelesaikan aspek-aspek teknis dalam rencana implementasi sistem kamar. Dirinya juga sangat memahami kompleksitas yang mungkin timbul apabila sistem kamar diterapkan di Mahkamah Agung. Terlebih lagi terdapat aspek dan kondisi bahwa perkara-perkara yang terdapat di Mahkamah Agung bersifat sangat heterogen.

“Sistem kamar tersebut dapat dicoba terlebih dulu dan terhadap masalah teknis yang mungkin timbul dalam pelaksanaannya dapat diselesaikan pada saat menjalankan proses tersebut,” sarannya.

Diskusi ini diikuti oleh anggota Pokja Sistem Kamar bersama Delegasi FCA yaitu Justice Michael Moore, CEO/Registrar Warwick Soden dan Registrar FCA Melbourne Sia Lagos. Turut hadir dalam diskusi tersebut perwakilan dari Australian Agency for International Development (AusAID) Syaiful Syahman dan Nicola Colbran, Direktur Program Indonesia Australia Partnership for Justice (IAPJ). (as/ya)